Polda Jambi Masukan Serikat Mandiri Batanghari Sebagai KKB

Polda Jambi menyatakan bahwa Serikat Mandiri Batanghari atau SMB bukanlah kelompok tani akan tetapi kelompok kriminal bersenjata atau KKB. Kelompok tersebut menurut polisi telah melakukan berbagai tindak pidana pengadangan, perusakan, pencurian dan penganiayaan terhadap tim Satgas Karhutla yang tengah bertugas dalam memadamkan kebakaran hutan yang terjadi di Kabupaten Batanghari, Jambi.

Direskrimum Polda Jambi Kombes M Edi Faryadi menyatakan bahwa penyebutan SMB sebagai KKB setelah melalui proses penyidikan, penggeledahan serta pemeriksaan yang tidak ditemukan alat pertanian ataupun bibit tanaman dari basecamp SMB yang berada di Kabupaten Batanghari.

Polda Jambi Masukan Serikat Mandiri Batanghari Sebagai KKB

Polda Jambi Masukan Serikat Mandiri Batanghari Sebagai KKB

“Yang kami temukan dilokasi adalah puluhan senjata api rakitan, senjata tajam dengan berbagai jenis serta bambu runcing. Tim tidak menemukan adanya cangkul ataupun bibit tanaman. Dari penemuan tersebut, kami menyimpulkan bahwa mereka sesungguhnya adalah KKB yang melakukan tindak kriminal menggunakan senjata selama satu tahun terakhir di Kabupaten Batanghari dan Provinsi Jambi,” kata Faryadi.

Dia menyatakan bahwa polisi telah mengantongi bukti yang cukup untuk menyatakan SMB sebagai KKB karena aksinya yang dianggap meresahkan warga sekitar sekaligus telah melanggar berbagai pasal berlapis.

Keberadaan SMB ini mencuat setelah terjadi kekerasan yang dilakukan anggota tersebut terhadap petugas TNI dan Polri yang tengah bertugas bersama Satgas Karhutla yang dimulai dair penyerangan ketika petugas ingin memadamkan kebakaran hutan seluas 10 hektar di dua lokasi.

Keesokan harinya puluhan orang yang merupakan anggota dari SMB mendatangi kawasan dari PT WKS distrik VIII. Anggota dari satgas dari TNI dan Polri yang tengah bertugas di kawasan tersebut mencegah anggota SMB tersebut karena dikhawatirkan akan melakukan pembakaran hutan kembali. Pencegahan tersebut berujung pada aksi penyerangan oleh puluhan orang tersebut terhadap aparat TNI dan Polri.

Dari penyerangan tersebut, Polda Jambi mengamankan 59 orang tersangka yang semuanya merupakan anggota dari SMB. Pada tahap pertama polisi menetapkan sebanyak 41 orang sebagai tersangka yang didalamnya termasuk pimpinan dari kelompok ini yaitu Muslim beserta istrinya yang bernama Deli Fitri.

Pada tahap kedua ini, polisi menetapkan 18 tersangka yang dimana terdapat dua warga Suku Anak Dalam yaitu Untung dan Yandang yang bergabung dengan SMB karena diimingi oleh Muslim dengan lahan gratis kepada Suku Anak Dalam jika mau bergabung dengan kelompoknya.

Kombes Edi Faryadi menjelaskan bahwa Muslim sengaja memanfaatkan Suku Anak Dalam sebagai perlindungan dari penangkapan polisi selama ini sekaligus mempermudah aksinya dalam melakukan penjarahan lahan yang berada di Kabupaten Batanghari.

“Dia dengan sengaja memprovokasi Suku Anak Dalam untuk memusuhi warga dan aparat kepolisian dan TNI yang datang ke lokasi dengan menanamkan dokrin bahwa warga sekitar dan aparat adalah orang jahat sedangkan dirinya adalah seorang penolong,” kata Edi.

Dari hasil pemeriksaan menemukan bahwa Muslim dan istrinya dielu-elukan oleh anggota dan SMB dan juga Suku Anak Dalam.

“Tersangka Muslim dipanggil Yang Mulia sedangkan istrinya dipanggil Bunda Ratu,” kata Faryadi.

Dia menyatakan bahwa SMB ini sangatlah berbahaya jika terus dibiarkan berkembang sehingga pihaknya mengambil tindakan tegas dengan membubarkan kelompok tersebut.

Muslim didalam kelompok SMB berperan sebagai penggerak utama sedangkan istrinya berperan sebagai pengumpul dana.