Polisi Bongkar Sindikat Penipuan Penjualan Rumah Mewah Di Jakarta

Sindikat penipu jual beli rumah mewah dengan modus notaris palsu di kawasan Jakarta akhirnya berhasil diciduk oleh polisi. Empat tersangka yang diamankan adalah masing-masing D, H, A dan K.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menjelaskan bahwa pengungkapan kasus penipuan ini berawal dari tiga laporan masyarakat yang diterima oleh Polda Metro Jaya pada bulan Juli lalu.

Dalam laporan yang dibuat, para korban mengetahui bahwa mereka ditipu setelah bank menginformasikan adanay agunan sertifikat tanah atas nama korban. Para korban sendiri mengaku bahwa mereka tidak pernah menyerahkan sertifikat tanah ke pihak bank untuk dijadikan jaminan pinjaman.

Polisi Bongkar Sindikat Penipuan Penjualan Rumah Mewah Di Jakarta

Menurut Argo, sindikat ini menyasar masyarakat yang ingin menjual rumah mewah dengan harga minimal Rp 15 miliar.

“Mereka ini menyasar korban yang ingin menjual rumah mewah dengan harga minimal Rp 15 miliar. Mereka menawarkan dapat menjual rumah tersebut dengan syarat korban menyerahkan sertifikat asli rumah tersebut. Setelah itu mereka menyalahgunakan sertifikat tersebut dengan mengajukan pinjaman ke pihak bank,” kata Argo.

Ditemui di kesempatan yang sama, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Suyudi Seto menjelaskan bahwa masing-masing tersangka memiliki peran yang berbeda.

Peran masing-masing tersangka adalah mencari korban yang ingin menjual rumah, berpura-pura menjadi notaris, pemalsu sertifikat tanah hinga mencari rumah yang dapat disewa untuk dijadikan kantor notaris palsu.

Suyudi mengungkapkan bahwa salah satu korban yang tertipu adalah berinisial CS yang memiliki sebuah rumah seharga Rp 87 miliar yang ingin dijual.

Tersangka pun merayu korban untuk menyerahkan sertifikat rumah dengan alasan untuk memeriksa keaslian ke BPN.

“Untuk meyakinkan korban, mereka bertemu di sebuah ruko yang dijadikan kantor notaris palsu di Tebet. Korban merasa yakin dan akhirnya menyerahkan sertifikat tersebut. Setelah itu, salah satu pelaku memalsukan sertifikat tersebut untuk dikembalikan ke pemilik asli sedangkan sertifikat asli dibawa tersangka untuk digadaikan ke bank,” kata Suyudi.

Korban sendiri ketika diberikan sertifikat palsu tidaklah menyadari bahwa sertifikat tersebut telah ditukar karena bentuknya yang hampir mirip dengan yang asli.

Korban baru menyadari dirinya telah ditipu ketika memperoleh surat tagihan dari bank.

“Total kerugian dari tiga korban ada adalah mencapai Rp 214 miliar,” jelas Suyudi.

Atas perbuatannya tersebut, para tersangka akan dijerat dengan Pasal 378 KUHP atau Pasal 372 KUHP atau Pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara.