Pembobolan di Ambon, BNI: Sindikat Kejahatan Investasi

PT Bank Negara Indonesia Persero Tbk atau BNI menyatakan pembobolan dana nasabah di cabang Ambon, Maluku, dilakukan oleh karyawan berinisial F yang merupakan bagian dari sindikat kejahatan investasi.

“Oknum pelaku dengan inisial F yang diduga merupakan bagian dari sindikat mengumpulkan dana dari para investor dengan menjanjikan imbal hasil yang cukup besar untuk berbisnis,” kata Direktur Bisnis Korporasi BNI Putrama Wahju Setyawan dalam keterangan tertulisnya di Jakarta.

Para penerima aliran dana disinyalir adalah para pemilik modal yang seolah-olah menerima pengembalian dana dan imbal hasil dari oknum. Padahal dananya berasal dari hasil penggelapan dana milik bank. Nilai dana yang digelapkan FY berdasarkan temuan hasil pemeriksaan internal mencapai sekitar Rp 58,95 miliar.

Berdasarkan temuan itu, BNI mengambil tindakan dengan melaporkan kejadian ini kepada Kepolisian Daerah Maluku. Dan saat ini kasusnya tengah ditangani penyidik Polda Maluku. Perseroan juga berjanji akan mengupayakan pemulihan (recovery) dana BNI yang digelapkan oleh sindikat.

Petugas Bank Negara Indonesia (BNI) Cabang Meulaboh menyiapkan uang pecahan untuk layanan penukaran uang baru di Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Kamis, 16 Mei 2019. Bank Indonesia bersama bank umum lainnya menyiapkan layanan penukaran uang di 2.895 titik di seluruh wilayah Indonesia. ANTARA/Syifa Yulinnas

Putrama mengatakan, salah satu potret yang dapat menunjukkan kinerja BNI Ambon memuaskan dapat dilihat dari kinerja Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun di seluruh jaringan yang berada di bawah koordinasi Kantor Cabang Ambon.

Dana Piihak Ketiga yang dihimpun di Ambon dan sekitar Ambon tumbuh sebesar 20,06 persen secara tahunan (Year on Year/YoY) dibandingkan DPK yang terkumpul selama 2018. BNI mencatat bahwa di Ambon dan sekitarnya terjadi pertumbuhan Tabungan dan Giro masing-masing sebesar 19,99 persen (YoY) dan 27,96 persen (YoY).

“(Kasus itu) tidak dapat mempengaruhi kondisi BNI secara umum. Nasabah dan masyarakat umum tidak perlu khawatir untuk tetap bertransaksi dan menyimpan dananya di BNI,” kata Putrama.

Dia menekankan komitmen perseroan untuk menjaga ketersediaan uang tunai yang dapat digunakan masyarakat melalui berbagai jaringan termasuk mesin ATM selama 24 jam sehari 7 hari sepekan.

“Pelanggaran yang terjadi di Ambon adalah kasus yang memiliki dampak minimal terhadap operasional dan ketersediaan dana di BNI. Kasus ini sudah dalam proses penyelidikan pihak Kepolisian sehingga diharapkan dapat mempercepat proses pengungkapannya,” ujar Putrama.