Kronologi Pembunuhan Surono, Mayat Yang Dibunuh Oleh Keluarga Sendiri

Kronologi Pembunuhan Surono,  Dihabisi Saat Tidur Lalu  Tubuhnya Mayatnya Diseret Lalu Ditanam

Surono (51) dibunuh secara sadis oleh anaknya sendiri Bahar Mario (25) di rumahnya di Dusun Juroju Desa Sumbersalak Kecamatan Ledokombo, Jember.

Istri Surono, Busani juga mengamini pembunuhan yang dilakukan anaknya.

Polres Jember telah menetapkan Bahar dan Busani sebagai dalam tersangka  pembunuhan  terhadap  petani asal Dusun Juroju itu.

Begini kronologi lengkapnya :

1. Dibunuh Akhir Maret 2019

Kapolres Jember AKBP Alfian Nurrizal mengatakan pembunuhan ini terjadi pada akhir Maret 2019.

Saat itu Bahar pulang ke rumahnya sekitar pukul 23.00 WIB dan Busani menyambut kepulangan anak keduanya itu.

Bahar mendatangi Surono yang sedang tidur di kamar depan rumah bagian barat lalu memukul menggunakan linggis.

Pukulan ini mengakibatkan wajah kiri Surono mengalami luka parah, dan terjadi pendarahan hebat.

Lalu Busani mematikan lampu di depan rumah yang berada di dekat kamar Surono.

“Korban memiliki riwayat sakit pernapasan. Luka berat ditambah riwayat penyakitnya itulah yang diduga menjadi penyebab kematian korban,” ujar Alfian.

 

2. Diseret saat akan dimasukkan lubang

Lalu Bahar dan Busani menggotong mayat Surono ke belakang rumah itu.

Bahar menggotong bagian atas matar korban.

Sedangkan Busani memegangi kaki korban.

Diduga tidak kuat, Busani melepaskan gotongannya.

Akhirnya Bahar menyeret mayat sang ayah ke bagian belakang rumahnya.

Ketika pembunuhan terjadi, bagian belakang rumah belum menjadi dapur permanen.

Saat itu bagian belakang rumah itu hanya ada bangunan semi permanen, dan lahan kosong.

Lalu Bahar menggali tanah di bangunan semi permanen itu.

Bahar pun memasukkan tubuh ayahnya ke liang itu.

 

3. Liangnya pendek kaki Surono Ditekuk

Karena liangnya tidak begitu panjang, kaki Surono tertekuk dengan kepala ada di sisi barat.

Bahar menempatkan linggis di bawah jasad ayahnya.

Surono terkubur bersama baju dan sarungnya.

Setelah itu, Bahar menimbun tubuh ayahnya memakai semen yang telah dicampur air sehingga lubang itu tertutup.

 

4. Setalah membunuh ambil uang korban Rp 6 juta dan jual motor CBR Rp 19 Juta

Setelah pembunuhan tengah malam itu, Bahar mengambil uang Rp 6 juta di tas milik Surono.

Bahar membonceng ibunya memakai motor CBR ke rumah neneknya.

Belakangan Bahar menjual motor CBR milik Surono ini seharga Rp 19 juta.

Setelah membunuh ayahnya, Bahar menitipkan ibunya ke rumah sang nenek, Misnatun, yang tidak jauh dari rumah Surono.

Kemudian, dia pulang ke rumah istrinya yang juga di Desa Sumbersalak.

Bahar masih menginap semalam di rumah istrinya dan keesokan harinya, dia kembali ke Bali.

 

5. Sang Ibu memberitahu lubang merenggang lalu diuruk keramik

Selang beberapa hari, Busani mengabari Bahar kalau lubang yang dibuatnya merenggang.

Bahar diminta sang ibu kembali menguruk lubang penguburan Surono memakai semen dicampur air.

Beberapa hari kemudian, Bahar pulang lalu kembali menutup lubang itu.

Dia menguruknya memakai tanah, kemudian menutupnya memakai keramik.

Pemasangan keramik dilakukan sekaligus memperbaiki dapur itu.

 

6. Dibuat dampur permanen dan lubang penguburan jadi musala

Dapur dibangun menjadi bangunan permanen.

Lubang penguburan Surono diubah menjadi musala atau tempat salat berkeramik hitam.

Dapur dibuat bergaya modern. Dapur itu juga bisa menampung motor.

Tidak ada yang curiga dengan peristiwa itu. Hingga akhirnya, kasus itu terungkap pada Minggu (3/11/2019).

 

7. Bahar tidak sengaja buka kematian ayahnya

Bahar juga yang secara tidak sengaja membuka kematian ayahnya.

Meskipun dia sudah mengarang cerita kepada Kepala Dusun Juroju, Misri (bukan Misli, seperti dalam berita sebelumnya, red).

Kepada Misri, Bahar bercerita kalau ayahnya telah mati dan dibunuh Jm (suami siri Busani).

Dia mengetahui itu, setelah bertanya kepada sang ibu.

Kepada Misri, Bahar mengaku bermimpi ditemui sang ayah.

Dia pun menelepon ibunya untuk bertanya tentang keberadaan ayahnya.

Bahar juga bercerita kepada Misri, setelah dia bertanya kepada ibunya, ternyata ayahnya telah mati.

“Saat cerita ke saya, Bahar mengatakan bahwa ayahnya dibunuh oleh lek-nya. Lek-nya itu mengacu kepada suami siri Busani.”

“Waktu cerita ke saya, saya kan nggak ngerti apakah itu benar atau tidak. Kalau tidak benar, kan berarti dia mengarang cerita.”

“Namun tentang tidak adanya Pak Wid (panggilan akrab Surono, red), memang saya ketahui sudah agak lama. Dia lama tidak terlihat,” ujar Misri.

 

8. Bahar dan Kepala dusun lapor polisi

Setelah mendengar cerita Bahar itulah, akhirnya Misri dan Bahar mendatangi Polsek Ledokombo dan melaporkan peristiwa itu.

Akhirnya misteri hilangnya Surono terkuak.

Surono tidak hilang, namun meninggal dunia.

Jasadnya terkubur di rumahnya sendiri.

Tidak disangka pula, pelaku pembunuhan ternyata Bahar, anak keduanya.

Sang istri, Busani juga terlibat dalam peristiwa itu.