Kronologi Lengkap Pembunuhan Keji Di Kota Medan

Pembunuhan sadis yang melibatkan tiga tersangka di Kompleks Cemara Asri, Jalan Duku, No 40 Kecamatan Percut Sei Tuan, Deli Serdang mengungkapkan banyak fakta baru.

Mayat dari korban EL yang ditemukan pada Rabu, 6 Mei 2020 didalam kardus dengan kondisi mengenaskan. Diketahui bahwa dua tersangka ternyata merupakan mantan napi kasus pencabulan terhadap anak yang baru dibebaskan karena program asimilasi COVID-19.

Kapolrestabes Medan, Kombes Pol JE. Isir pada konferensi pers di Mapolrestabes Medan pada Jumat lalu yang mengungkapkan tiga tersangka yaitu J (22), M (22) dan TS (56).

J adalah pacar dari EL, M adalah mantan pacar EL dan TS adalah ibu dari J.

Kasus ini dimulai pada Rabu, 6 Mei 2020 siang sekitar pukul 13.30 WIB yang dimana J menghubungi korban EL. Tidak lama kemudian bahwa korban datang ke rumah J dengan diantar oleh tersangka M.

Ketika dirumahnya, tersangka J mengajak korban bersetubuh akan tetapi ditolah oleh korban. Merasa sakit hati, J lalu mendorong kepala korban hingga terbentur dinding dan pingsan.

Kronologi Lengkap Pembunuhan Keji Di Kota Medan

“Setelah itu, J melakukan melancarkan aksinya untuk menyetubuhi korban yang tengah pingsan. Setelah selesai dengan aksi bejatnya, J mengambil pisau dan menikam dada korban,” kata Isir.

Setelah itu, pelaku mencoba untuk membakar korban dengan bensin yang dibeli oleh M didekat kamar mandi. Tersangka M sendiri membeli bensin tersebut setelah disuruh oleh J.

M lalu menghubungi TS yaitu ibu dari J yang tengah tidak berada di rumah. TS lalu pulang dan ikut membantu memasukan korban ke dalam kardus lalu ditutup untuk diangkut dengan mobil taksi online yang pada akhirnya dibatalkan.

“TS juga yang menekan M untuk mengaku menjadi tersangka tunggal,” kata Isir.

Para tersangka diancam dengan hukuman pidana mati atau minimal penjara seumur hidup.

Kapolrestabes Medan mengatakan bahwa J dan M merupakan mantan narapidana yang baru keluar dari penjara Tanjung Gusta karena program asimilasi COVID-19. J dan M sama-sama tersangkut kasus pencabulan terhadap anak-anak pada kasus yang berbeda.

Tersangka J dipidana dengan hukuman 6 tahun 6 bulan untuk kasus cabul terhadap anak yang ditangani oleh Polda Sumut. Sedangkan M, dipidana selama 7 tahun. Kasus M sendiri ditangani oleh Polrestabes Medan.

Saat sedang berbincang dengan kedua tersangka, Isir menanyakan kasus yang telah dilakukan oleh tersangka dan diakui tersangka sambil menundukkan kepala.

“Penjahat kelamin ternyata kalian,” kata Isir sambil berbalik badan.

Menurut Isir, didalam kasus ini, pihaknya melihat terdapat perencanaan. Dimulai dari tersangka J yang menghubungi korban yang lalu korban menghubungi M untuk diminta tolong diantar ke rumah J atau TKP.

Diketahui juga, ketiga tersangka sempat membuat surat cinta yang ditemukan di lokasi kejadian. Surat ini bertuliskan “Saya sangat mencintai Elvina sehingga saya membunuh karena pihak dari keluarga tidak menyetujui saya. Saya mau bunuh diri saya. Cinta Elvina (lambang love) Acai”.

Ketika aparat tiba di lokasi, M juga pingsan yang diduga menengak obat nyamuk. Korban EL dan tersangka M lalui dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Medan untuk diotopsi serta dirawat.

Surat tersebut ditulis oleh M setelah diancam oleh tersangka TS dan J.

“Surat cinta ini menjadi bagian dari upaya dari para pelaku untuk mengaburkan dan menghilangkan jejak. Antara J dan korban tidak ada hubungan apa-apa. Sebatas teman. Masalah pacaran telah selesai. Semuanya mantan pacar. Status hubungannya adalah mantan semua,” kata Isir.

Para tersangka awalnya akan membuang mayat ke suatu tembat di Lubuk Pakam, Deli Serdang dengan memesan mobil taksi online. Rencana tersebut batal karena mayat tidak terbungkus secara sempurna.

“Dari keterangan tersangka, jenazah korban rencananya akan dibuang kesuatu tempat yang ada di Lubuk Pakam. Makanya korban telah dibungkus didalam kardus dan dilakban,” kata Isir.

Saat mobil yang dipesan telah tiba didepan rumah lalu dibatalkan oleh tersangka.

“Grab dibatalkan karena bungkus dalam kardus yang tidak sempurna sehingga dapat menyebabkan kecurigaan,” jelasnya.

Sebelumnya, diketahui bahwa setelah pembunuhan, J memberitahu M bahwa dirinya telah membunuh korban lalu memerintahkan M untuk membeli bensin. Setelah dibeli, bensin tersebut diberikan kepada J untuk membakar jasad korban hingga tidak dapat dikenali.